Karoseri Touring Superleggera Rilis Aero 3, Modifikasi Ferrari F12 Berlinetta Bergaya Retro

agen togel indonesia

Karoseri asal Italia, Touring Superleggera memperkenalkan mode terbaru. Namanya Aero 3 yang ambil pangkal Ferrari F12 Berlinetta. Dia ditransformasi dengan nuansa gabungan kekinian dengan retro. Ubahannya tidak cuma memberi penampilan menarik, dan juga memengaruhi perform mobil.

Perusahaan berbasiskan di Milan, Italia ini sudah lama mengolah bermacam mobil Eropa. Berdiri pada 1926, Touring Superleggera pernah hentikan usaha pada 1966. Sampai pada akhirnya pada 2008 kembali lagi bekerja dengan pengelola tidak sama. Kekhasan design yang tetap diusung membuat seringkali dilirik pabrikasi otomotif, seperti Aston Martin, BMW serta tentu saja Alfa Romeo untuk bekerjasama.

Aero 3 sendiri di inspirasi dari baris balap produksi 1930-an serta 1950-an. Cuma dibuat 15 buah, semasing unit diklaim memerlukan waktu kira-kira 5 ribu jam untuk membuat. Walaupun dirubah keseluruhan, siluet Ferrari F12 masih terpajang menguasai. Memiliki bentuk juga jadi representasi kekuatan eksperimen perusahaan di bagian aerodinamika. Ya, mereka memang seringkali bermain dengan terowongan angin saat membuat produk. Buat memperoleh perform oke.

Tampangnya pinjam beberapa proyekan Touring Superleggera dengan tiga bukaan terpisah berbingkai. Menariknya lubang ditengah-tengah memiliki design seperti grille triangular ciri khas Alfa Romeo. Walaupun pada Aero 3 memiliki bentuk bertambah trapezoid. Walau sebenarnya mode ini ditingkatkan dengan cara berdiri sendiri, tanpa kerja sama dengan merek saling dari Italia itu. Untuk ke-2 lubang yang mengapit memperjelas kesan-kesan sporty, berperan menyalurkan udara ke ruangan mesin. Ini masih ditemani aliran di ujung bumper yang menyalurkan udara ke ruangan roda depan.

Sesaat di belakang punyai ciri dari Alfa Romeo Disco Volante. Mode yang dikembangkannya pada 1952, selanjutnya diperbaharui pada 2013 serta 2016. Nampak dari buritan membulat dengan lampu horizontal sipit. Dan lubang knalpot berbingkai persegi bersudut tumpul. Komponen sangat menarik perhatian ialah sirip masif tertancap dari tengah sampai ke belakang, selanjutnya bersambung sampai diffuser. Membuat berkesan kuno. Kehadirannya juga mengakibatkan kaca belakang tereliminasi. Peluang proses parkir mundur didukung camera belakang supaya aman. Semua elemen dibikin dari serat karbon untuk memaksimalkan berat.

Louis de Fabribeckers, Kepala Desainer Touring Superleggera mengutarakan, imbuhan yang alamiah pada kabin berupa air mata memang tidak berperan pada kekuatan menyalurkan angin. “Tetapi menghidupkan peninggalan aerodinamika Touring semenjak 1930-an sampai saat ini,” tuturnya.

Dibalik body tertancap enjin liar V12 berkubikasi 6,3 liter. Dapat membuahkan tenaga 740 PS diperputaran 8.250 rpm serta torsi 689 Nm pada 6.00 rpm. Jantung picu dikaitkan ke roda melalui girboks automatis sequential 7-speed dengan paddle shift. Sasis aluminium serta skema kelistrikan didiamkan tidak tersentuh. Tetapi, dimensi memanjang 200 mm dari mode asli. Body juga diganti dari aluminium jadi carbon fibre, hingga memotong berat sampai 150 kg. Klaimnya, Aero 3 bisa melejit dari tempat 0 ke 100 kpj dalam 3,1 detik, dengan kecepatan pucuk 339 kpj.

Unit terpamerkan dilabur kelir namanya Stratosphere Red. Cat yang serupa digunakan pada Disco Volante 2013. Ada tulisan 19 pada bagian. Ini merekomendasikan nomor balap Alfa Romeo 8C 2900 B LM Coupe Berlinetta Aerodinamica bikinan Touring Superleggera, yang ikuti balap Le Mans pada 1938. Rona sama pula mencakup interior, tetapi digabungkan bersama-sama detil trim aluminium serta serat karbon, dan kulit Foglizzo.

Walaupun telah diperkenalkan, tidak diutarakan berapakah berapa harga jualnya. Peluang mahal, lihat elemen serta bisa dipersonalisasi seperti keinginan konsumen setia. Walau demikian, disebutkan tiga unit telah laris terjual.

Comments are closed.